Tampilkan postingan dengan label Cerita Bersambung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Bersambung. Tampilkan semua postingan

Ordinary Life : Part 13


Don't Touch My Girl

Sabtu ini aku jaga konter siang hari, jadi malamnya aku bisa malem mingguan sama Angel…uhuy… Jam udah menunjukkan pukul 14:55 dan Putra pun udah stand by nggantiin aku.
“Oke, Put. Aku meluncur dulu yah. Malem mingguan brooooo…”
“Iya iya sana, cepetan pergi. Silau nih liat gigimu yang pringas pringis dari tadi.”
Ayo Baca Lanjutannya...≧ω≦... Cuma Angling: Cerita Bersambung

Ordinary Life : Part 12


Be Strong My Friend

Senin sore, tepatnya jam 16:31:45, aku memulai langkah pertamaku ke luar kelas menuju kantin di kampusku, padahal kantin di sana sudah tutup 31 menit 45 detik yang lalu. Jadi kenapa aku kesana? Karena semalam aku mendapatkan SMS dari Ina dan Satria. Aku dan Satria beda kelas dan dia sudah kelar mata kuliah terakhir sejam lalu, jadi sekarang mungkin mereka sudah ada di sana.
Ayo Baca Lanjutannya...≧ω≦... Cuma Angling: Cerita Bersambung

Ordinary Life: Part 11


Be Afraid



Sudah sebulan aku part time di sebuah konter hape yang lumayan laris ini. Tempatnya kecil, cuma ada etalase di depan dan sekat triplek yang dibaliknya adalah ruang kerja buat reparasi hape. Aku kerja Cuma hari sabtu dan minggu sedangkan Putra jaga tiap hari selasa sampai minggu. Konter hape yang bernama Chobits ini buka dari jam 8 pagi sampai 11 malam, sedangkan aku kebagian jam 3 sore sampai 11 malam. Jadinya ya aku jarang malem mingguan deh. Tapi untungnya Angel pengertian, walau pertama kali aku kasih kabar dia pasang tampang yang kurang menyenangkan, tapi akhirnya dia sekarang ngertiin aku.
Ayo Baca Lanjutannya...≧ω≦... Cuma Angling: Cerita Bersambung

Ordinary Life: Part 10


My Fault




Keringat mulai bercucuran, tangan kutaruh di mulut, “jadi dia balas dendam gitu, don?” volume suaraku semakin lirih.
“Balas dendam?..mmmm…nggak juga sih.”
“Terus apa?”
“Kamu waktu SMA sering banget pulang bareng sama Eli, kan? Ya aku tau kita semua, termasuk Angel, sahabatan. Tapi Perempuan tu berpikir pake hati, man.”
“Ta-tapi kan..Aku udah ijin sama Angel juga…Angel juga sahabatnya Eli…”
“Pernah suatu hari aku liat wajah sedih Angel waktu kamu pulang sama Eli. Wajahnya seolah bilang ‘padahal aku masih pengen sama kamu, ndy…tp kenapa kamu pulang duluan?sama cewe pula’…kira-kira begitu”
“Ah ngaco kamu don.” Keringatku mulai menetes ke lantai.
Ayo Baca Lanjutannya...≧ω≦... Cuma Angling: Cerita Bersambung

Ordinary Life: Part 9


Hug


(huaaahhh,,,di bulan ke 9 ini ceritaku udah sampe part 9…makasih buat yang mau baca dimanapun n siapapun di sana…cerita ‘fiksi’ yang biasa aja ini semoga bisa menghibur kalian..makasih, arigatou, sankyu, gomawo…^^ )
Ayo Baca Lanjutannya...≧ω≦... Cuma Angling: Cerita Bersambung

Ordinary Life: Part 8


  Trust   


          Pikiranku kemarin terus membayangi. Jika aku Ingin melakukan hal yang sama dengan Ina, berarti aku harus kenal dulu dengan teman Angel, sedangkan sekarang aku nggak kenal teman Angel satu pun. Aku justru jadi penasaran bagaimana si Ina bisa tahu nomerku? Atau jangan-jangan dia buka-buka HP Satria? Jika memang iya seperti itu, aku bakal sulit menirunya karena aku punya perasaan sungkan membuka HP orang lain, bahkan jika itu pacarku sekalipun. Ahh,,, ya sudah lah, mungkin memang aku nggak boleh berbuat seperti itu, percaya aja sama Angel.
Ayo Baca Lanjutannya...≧ω≦... Cuma Angling: Cerita Bersambung

Ordinary Life: Part 7

  I'll do Anything for You


   “Aku ma Satria udah pacaran dua tahun lebih dan ini hampir tahun ke tiga. Selama dua tahun hubungan kami, nggak ada masalah yang serius, tapi sejak kuliah dan kami jarang bertemu, dia mulai berubah,” Ina curhat dengan wajah yang serius dan terlihat genangan air di ujung matanya.
    “Emm, mbak,,,anu,,, tuh air jangan sampe netes ya…nanti dikira aku yang ngapa-ngapain mbaknya..hehe,” candaku agar suasana tidak terlalu kaku.
    “Oh iya..maaf.. selalu gini kalau ingat perubahannya.”
    “Nggak papa, asal nggak netes. Air mata wanita itu berharga lho. So lanjut, emang gimana perubahannya?”
    “Mmmm…dia sekarang ini lebih suka emosi, jarang ada waktu buat aku, perhatiannya pun berkurang, dan kalau SMS-an selalu balasnya lama dan pendek seperlunya saja. Kalau kamu, mas, ada di posisiku apa yang bakal terpikirkan?”
   “Mmm..jawabanku jangan di jadiin patokan ya,,, kalo aku pasti mikir dia lagi ada sesuatu yang lebih penting yang harus di perhatiin  daripada kamu,,, tapi belum tentu juga perhatiannya buat cewek lho, bisa aja kuliahnya.”
    “Tapi aku merasa ini nggak adil, aku udah ngasih apapun sebisaku…”
   “Eits, mbak. Itu artinya kamu pamrih, donk. Kalo sayang atau cinta, jangan mengungkit-ungkit apa yang sudah diberikan.”
  “Iya mas, aku juga pernah berpikir kayak gitu, tapi nggak bisa. Aku udah ngasih ‘semuanya’ ke dia.” Tes..tes…air matanya sudah tidak terbendung lagi.
    “Semuanya?! Mak-sud-nya?”
    “Ya ‘semuanya’, mas.”
   “A~.aaa~…,” pikiran ngeresku mulai beraksi, “anu…nggak kayak yang aku pikirkan, kan? Satria setauku bukan orang kayak gitu.”
    “Ya aku juga berharap Satria bukan orang yang seperti itu.”
  “Haduuuh,,kalo emang bener gitu, kenapa kamu bisa dengan enjoy-nya cerita semua ini ke aku? Bahkan kita baru ketemu hari ini.”
   “Karena setauku mas Andy ini yang paling deket ma Satria…. Plis mas, tolong aku, jangan sampai Satria direbut orang, aku nggak mau kehilangan dia. Setiap dia minta pisah, aku selalu rela nglakuin apapun biar itu nggak terjadi.”
   Mendengar itu aku langsung teringat cerita Satria waktu di warug soto.. “Bahkan dia sempat mengancam bunuh diri waktu aku minta pisah. Kukira cuma gertakan tapi ternyata dia bener-bener ngelukain pergelangan tangannya,” kata-kata Satria terngiang-ngiang di kepalaku dan kubuktikan dengan melihat pergelangan tangan kiri Ina. Ada bekas luka memanjang di sekitar urat nadinya.
    “Aduh mbak, aku bisa bantu apa coba?”
    “Apapun, mas.”
  “Waduh….mmm…yaudah gini aja, mbak. Aku bakal ngasih tau mbak kalo memang ada gelagat Satria deket sama cewek, tapi deket sama teman nggak aku hitung lho.”
    “Iya mas, aku ngerti.”
   “Satu lagi…kamu kayaknya orang yang nggak sabaran kalau menyangkut Satria. Jadi aku minta tolong kamu jangan melakukan hal yang aneh-aneh atau berprasangka buruk sama Satria sebelum ada kabar buruk dari aku. Dan kalau aku nggak ngasih kabar, berarti semuanya fine, oke mbak Ina?”
    “Okey. Makasih banget ya…maaf udah nambahin pikiran, aku nggak tau lagi harus cerita ke siapa.”
    “Santai aja lagi..”
    “Kalau gitu aku pamit sekarang ya…sekali lagi makasih.”
   “Iya…sama-sama…” kutebar senyum padanya.

----------------------------------------------------------

    Sejak sampai dirumah, setiap lima menit sekali kulihat HPku, berharap ada pesan dari Angel yang mampir. Tapi nihil, nggak ada pesan sama sekali, bahkan promo-promo dari operator pun nggak ada.
    “haaaahhh….sepinya hape ini, apa jangan-jangan di dunia ini cuma aku yang punya hape?” gerutuku.
   Setelah kurang lebih dua jam menunggu HP berdering, kuputuskan untuk memulai mengirim pesan ke Angel. Mungkin Angel penganut kepercayaan ‘cowok harus menghubungi dulu atau cowok harus nembak dulu dan sebagainya’…
    Pesan yang kukirim sedikit monoton, kisaran tanya kabar, sudah makan belom, lagi apa, sama siapa dan balasan dari Angel pun akhir-akhir ini sama, hanya menjawab kabarnya, dia udah makan, lagi SMS-an ma aku, sendiri,,,dan nggak ada pertanyaan buat aku. Karena seringnya hal itu terjadi, pikiranku mulai mengotori rasa sayangku pada Angel. Aku berpikir jangan-jangan dia sudah mulai bosan dengan hubungan kami, bahkan berkirim pesan pun dibuat sesingkat mungkin.
   Pikiran gila tiba-tiba muncul… apa aku minta tolong sama temen Angel aja, kayak yang dilakuin Ina ke aku…hmmmmm…..



Setelah kupikir ulang, rencanaku tersebut kayaknya bakal membuat runyam hubunganku ma Angel….dan ternyata benarrrr…


-to be continued-
Ayo Baca Lanjutannya...≧ω≦... Cuma Angling: Cerita Bersambung

Ordinary Life: Part 6


 Jealous

      Tik tok tik tok tik tok….suara jam tangan ku seolah mengorek kupingku pelan-pelan dan bertahap. Nggak ada yang bisa aku lakuin selain nunggu my Girlfriend keluar dari kos-kosan temennya. Aku nggak diijinin nemenin dia masuk ke sana, katanya nggak enak ma temen-temen di sana..hmm..oke lah... i’ll do anything to my girlfriend..
       Setengah jam…aku mulai bertanya-tanya apa jangan-jangan dia lupa kalo aku disini..15 menit kemudian, berati kalo ditotal 45 menit lah, dia akhirnya muncul sambil tersenyum, “cari makan yuk sayang..”
      Haaaahh…gara-gara kata ‘sayang’, benih api emosiku langsung padam. “Ah, aku nggak jadi emosi nih..kamu tuh paling bisa ya.”
      “Hehe..maaf kelamaan ya..keasyikan tadi di dalem, rame sih.”
      Aku juga kegirangan,sepi sih di sini..batinku… “Nggak  papa,,udahlah, ayo mari kita kemon”.
     Biarpun sempat kecewa, tapi setidaknya hari ini kulewati dengan akhir bahagia karena bisa dinner bersama…hmmm.. I love my girlfriend…


 ---------------------------------------------------

      Setibanya dirumah aku merebahkan diri di kasur sambil memikirkan sesuatu yang mengganjal. Aku terus memikirkan Angel, memikirkan apa yang dia ceritakan saat kami makan tadi. Dia terlihat gembira saat menceritakan kegiatannya, teman-temannya, dan kos-kosannya. Tapi entah dia sadar atau tidak ada satu nama yang sering dia sebut, Abi, dia teman barunya dan satu kelompok jika ada tugas. Aku yakin dengan perasaanku yang sedang aku alami sekarang, perasaan ini bernama cemburu. Di sini aku mulai begulat batin, di satu sisi aku mulai khawatir dengan hubungan kami jika dia selalu bersama si Abi, ditambah lagi aku pernah dengan istilah jawa Tresno Jalaran Seko Kulino (cinta muncul karena terbiasa). Tapi di sisi lain aku berusaha menyangkalnya, aku percaya dengan Angel, tidak mungkin dia sejahat itu sama aku, toh itu hanya teman kuliah, aku juga punya...aahhh..pusing…
      Saat sedang galau-galaunya, HPku berteriak minta diperhatiin, dan kulihat ada pesan di sana, dan bunyinya:

Mlm, ini Andy tmnnya Satria bukan?
Aq Ina, pcrnya Satria…
Blh nanya sesuatu?

       He??gimana dia bisa tau nomer HPku?....setelah berpikir panjang aku balas pesannya dan terjadilah percakapan singkat.

Aku:
Iya bnr ini Andy, kok bs tau nmrku?
Blh donk klo mw  nanya,muga ja ak bs jwb.  

Ina:
Mslh aq dpt nmr km dr mn itu g pntg..maaf..
To the point aja ya,,Satria lg dkt sama cewe g?
Aq brtrimaksh bgt klo km mw ngsh tau ak.

Aku:
Ysdh lah,toh km dh tau nmrku.
Setauku Satria g dkt sma siapa2 kok..
Cm prasaanmu aja kli..

Ina:
Gtu ya..dy agak bda soalnya..
Btw bsk km ada wktu g?aq pgn crita-crita ma km..
Hari Kamis Jm 4 sore slesai km kuliah aq bakal ada dikmpusmu,
Biarin aq yg nyari km, aq dh tw km kok.
Tengkyu..malem..

       He?ya sudahlah,,pesan terakhirnya itu nggak aku balas, karena aku yakin dia berharap jawaban ‘iya’ dariku. Ya ampun, kurasa aku tau cewek seperti apa dia.

--------------------------------------------------------

       Mid semesterku udah kelar, dan sekarang hari Kamis, hari dimana Ina mau nyamperin aku..ah..aku lagi pengen ketemu my girlfriend, eh malah cewek orang pengen nyamperin aku…Kebetulan jam terakhir kuliahku kosong, jadi aku kluar kelas lebih awal. Sambil nunggu jam 4 aku ngobrol dengan teman-temanku di sebuah tempat tongkrongan yang memang disiapkan pihak kampus. Anak-anak dikampus kami menamai tempat tongkrongan ini sebagai ‘Sewu’ yang artinya seribu. Nama itu diberikan karena seolah seribu kegiatan bisa dilakukan di situ, dari ngupil sampe breakdance pernah terjadi di Sewu.
       Aku nongkrong di Sewu dengan beberapa anak salah satunya Satria, ingin sekali memberi tahu Satria kalau pacarnya bakal ke sini, tapi meskipun ingin, aku brusaha menahannya, aku sekarang lebih ingin tahu apa yang bakal di certain Ina. So mungkin aku bisa bantu hubungan mereka (adek-adek, jangan ditiru ya, nggak boleh ikut campur hubungan rumah tangga orang).
       Daripada bingung mau ngapain nunggu jam 4, aku mau ngenalin temen-temen ku yang sekarang lagi nongkrong ma aku ini.
       Dini: cewek putih oriental, paling cantik seangkatanku…menurutku.
       Tika: sahabat Dini, karena dari kota dan kost yang sama. Kulit eksotis dan berwajah manis.
       Dyani: berbadan gempal dan berambut panjang lurus, dia orang yang baik, kadang nraktir.
       Dewi: Cewek paling banyak di lirik sama cowok dari lain jurusan bahkan lain kampus. Putih dan seksi.
Selain cewek-cewek itu ada beberapa cowok yang udah aku kenalin sebelumnya, Satria, Ruka, Jojo, Santo, Arul, dan tentu aja aku.
       Jam udah hampir nunjukin pukul 4, aku rasa Ina udah mengintaiku dari tadi, dia pasti nunggu aku pisah dengan Satria. Maka akupun berpamitan dengan teman-teman dan berjalan menuju tempat yang agak jauh dari Sewu. Saat aku melintas di tempat parkir, terdengar kegaduhan di sana. Sebuah suara lantang cowok diikuti suara agak merintih seorang cewek seperti sedang adu mulut. Karena penasaran kubelokkan langkahku kesana. Aku kaget karena salah satu tokoh keributan di sana adalah temanku, dia adalah Dinda, sahabat yang paling dekat dengan Okti. Sepertinya dia sedang cek cok dengan pacarnya. Kuperhatikan wajah cowoknya, aku sama sekali tidak mengenalnya. Kupikir mereka hanya bertengkar seperti biasa, tapi lama-kelamaan volume suara mereka semakin menggelegar dan sang cowok mendorong jatuh Dinda. Beberapa temanku yang ada di parkiran terlihat tidak terima, tapi hanya sebatas pasang tampang sangar dan tidak beranjak dari tempatnya. Alhasil sang cowok mulai mengangkat tangan tinggi-tinggi dan siap untuk melayangkannya ke pipi Dinda.
       Set! Tangan si cowok tertahan oleh genggaman tangan Rizal, salah satu temanku yang kutu buku. Aku mulai berimajinasi..kalau di sinetron, kutu buku lawan jago pukul, pasti babak belur….dan benarlah terjadi, si cowok menghabisi Rizal dengan cepat dan dengan cepat pula dia meninggalkan kampus dengan CBR birunya.
     Karena kejadiannya begitu singkat, aku masih terbengong sambil celinguk an berharap menemukan kamera yang sedang menyorot kejadian tadi..mudah-mudahan ini Cuma reality show..tapi nihil, ini kenyataan!! Segera aku berlari ke arah Rizal dan Dinda, teman-teman lain pun ikut menolong mereka.
      “Dinda, Rizal…kalian nggak papa??” Tanyaku.
      “Aku nggak papa, tapi Rizal…” Mata Dinda mulai berkaca-kaca.
    “Aku juga baik-baik aja kok, Dinda. Thanks Ndy, thanks semuanya.” Rizal perlahan berdiri dan meninggalkan kerumunan orang yang bersimpatik dengannya. Dinda pun juga beranjak pergi di temani Okti.
      He?superhero banget si Rizal itu….
     Ah ak hampir lupa…Kulihat jam tanganku, jam 4 lewat 15. Hapeku bergetar, ada pesan dari Ina yang memberitahu kalau dia ada di kantin. Aku pun menuju ke sana.
Aku duduk di salah satu bangku dan berharap ada yang mendatangiku, dalam hitungan detik seorang cewek manis menghampiriku.
     “Aku Ina, salam kenal. Maaf ya sebelumnya udah ngrepotin. Aku tau tadi ada sedikit keributan, makannya aku minta ketemu di sini aja.” Lalu dia duduk di kursi di depanku.
     “No problem. So ada apa?”


Aku kaget dengan apa yang diceritakan cewek ini tentang hubungan mereka…andai aku tahu seperti ini aku nggak bakalan pengen tahu cerita nya…

-to be continued-
Ayo Baca Lanjutannya...≧ω≦... Cuma Angling: Cerita Bersambung

Ordinary Life: Part 5

Sorry


        Tak terasa sudah mid semester, berarti mungkin sudah tiga atau empat bulan aku menjalankan kuliah. Dunia yang sangat berbeda dengan masa-masa SMA, meski demikian aku menikmatinya karena selain tidak kesulitan menerima kuliah aku juga sudah mulai mendapatkan teman-teman dekat. Salah satunya Satria, teman satu tendaku saat makrab, kukira awalnya dia termasuk golongan tampan yang cool, ternyata gokil abis, dia selalu berhasil membuatku ngakak.
        “Hey, sat. Dari temen-temen kita di sini, mana yang paling menarik?” tiba-tiba pertanyaan konyol keluar dari mulutku yang dipenuhi soto.
       “He?Kenapa tiba-tiba nanya gitu?Hayooo…jangan-jangan kamu naksir temen kita yaaaaaa…???si Bowo kan?”
       “Heh ngawur...ngemeng-ngemeng…Kenapa kamu bales nanya?Jawab dulu donk…”
      “Hahay, oke..Aku dah punya gandengan bro, mana brani aku naksir orang lagi.”
      “Kamu punya cewek toh? Aku kok belum tau ya?..Yah, berarti sama donk…aku juga…” belum selesai aku ngomong Satria menimpali, “Tapi aku jenuh, Ndy..”
      “E-eh..kenapa?”
     Mulailah Satria bercerita tentang ceweknya yang protektif, pencemburu akut, dan yang lebih parahnya mulai nggak percaya sama yang Satria lakukan. “Bahkan dia sempat mengancam bunuh diri waktu aku minta pisah. Kukira cuma gertakan tapi ternyata dia bener-bener ngelukain pergelangan tangannya. Alhasil aku nggak tega buat pisah, tapi jujur aku udah jenuh walo sebenernya masih ada perasaan suka.”

      “Bro, bukannya nggak baik ya hubungan yang dipaksakan?”
     “Iya aku tau, tapi dia selalu kayak gitu…mmm…eh…sori lho malah jd curhat gini.”
     “Aish,,,santai aja lageeeee…lagipula….” omonganku belum selesai Satria menerjang lagi.
     “Nah, Ndy, sejujurnya lagi nih, ada salah satu temen kita yang menarik perhatianku.”
     “Heee?Siapa? Yang mana? Si Bowo ya?”
    “Yah kena deh aku…jelas bukan lah..aku nggak mau saingan sama kamu…hahay..sebenernya orangnya itu lho, ada di seberang jalan,” sembari Satria menunjuk seorang gadis manis berambut panjang lurus dengan poni lurus di jidatnya, mirip tokoh fashion Emily.
      “Aaaaa…Jeli juga mata ente…bening gan,” godaku.
      “Nah sekarang giliran kamu jawab pertanyaanmu sendiri, Ndy.”
     “Aku juga udah punya cewek dan kami baik-baik saja, jadi aku nggak bisa suka sama orang lain. Berusaha setia, lah..hehe..” aku cengengesan geje.
     “Huuu, curaaaangg…belagu lu…ya udah deh habisin dulu gih sotonya.” Kami pun menyantap soto kami yang sudah mulai dingin.

----------------------------------------------

       Hari ini aku janjian dengan Angel untuk nge-Mall. Wow…udah tiga bulan nggak jalan-jalan sama doi, kengen berat. Selain kami berkendala transportasi, dia juga di sibukkan dengan kegiatan-kegiatan perkuliahan. Di Jurusannya, banyak banget tugas, laporan, dan sejenisnya, karena itu kami susah banget buat ketemu.
       Sepanjang perjalanan dengan berbekal motor pinjaman dari kakak laki-lakiku, aku cengar-cengir sendiri membayangkan wajah Angel yang chubby, putih, rambut sebahu yang di biarkan terurai alami. Mungkin ini efek kangen yang berlebihan..hoho.. Setelah beberapa menit akhirnya aku sampai di kos-kosan nya yang tidak sulit untuk ditemukan karena berada dekat di kawasan kampus. Saat dia keluar dari pintu kos-kosan, jantungku kayak mau copot, manisnya nggak ketulungan, padahal dia cuma pake kaos dan celana jins pendek……he?
      “Mau pergi pake gituan, say? Nggak biasanya..” tanyaku sambil mengangkat sebelah alisku.
      “Mmm…maaf ya sayang…hari ini nggak jadi jalan…tapi aku butuh bantuanmu…mau nggak?”
      Sedikit kecewa sih, tapi dia butuh bantuanku sekarang, setidaknya aku berguna buat dia, jadi…why not?
       “Okeeeyy..nggak papa kok…asal kamu seneng aja. Jadi, minta tolong apa ne?”
      “Aku harus foto kopi beberapa laporan, terus mbagiin ke temen-temen, habis itu minta contoh soal buat mid besok ke temen. Dan semuanya harus malem ini..”
       “Serahkan sama aku,, malem ini aku  milikmu, besok juga, besoknya juga, terus juga nggak papa..hehe..”
       “Makasih sayang..”

Saat itu aku bahagia, tapi aku nggak tau kalau ternyata hari itu adalah awal dari sesuatu yang buruk bagiku…

-to be continued-
Ayo Baca Lanjutannya...≧ω≦... Cuma Angling: Cerita Bersambung

Ordinary Life: Part 4

 My Girlfriend

         Sekarang sudah memasuki hari ke 3 malam keakraban, alias hari kepulangan. Banyak kegiatan sudah dilalui, kami jadi mengenal satu sama lain dan para senior pun seperti berubah dari setan menjadi malaikat, bicaranya jadi lembut nggak yang pake otot segede telunjuk di leher, pandangan mata biasa aja nggak kayak lagi kesurupan, dan yang paling penting nggak ada lagi perintah-perintah konyol. Tapi berkat mereka juga kejadian saat jalan malam menjadi sangat mengena…ahhhhh…apa yang aku pikirin???...lagi-lagi…
         Setelah semua mahasiswa beres-beres, kami otw menuju kampus tercinta dan masih menggunakan truk. Di dalam truk aku berusaha menghubungi my girlfriend dengan mengirim pesan.
       Halo, gmn kgiatan mkrabnya?
       Ak kgn ne..km sht kan?
       Dh mkn blm?
Kutunggu balasan pesan ku selama 20 menit dan akhirnya hapeku berdering,
       Hehe,sibuk ne,,,bnyk bgt kgiatannya,,
       Maap y klo jd jrang sms an…^^
Kubalas lagi pesannya, tapi kali ini kutunggu hingga truk sampai ke kampus, balasannya tak kunjung nyantol di hapeku. Ya sudahlah mungkin emang sesibuk itu….

---------------------------------------------------

       Sudah seminggu sejak aku terakhir mengirim pesan ke my girlfriend dan hanya beberapa kali berbalas pesan. Aku jadi khawatir seperti apa masa ospek nya. Pagi ini aku berinisiatif menelponnya, walaupun sebenernya aku takut kalau mengganggu kegiatannya, tapi tak apalah, aku kangen berat.
      TUUUUTTT…TUUUUTTT….TUUUUUTT….cklek…“Halo?” terdengar suara yang sangat kurindukan di ujung telpon sana.
      “Hai, apa kabar?lagi sibuk nggak?aku kangen..”
     “Baik, kamu juga kan? Aku lagi nyari kos-kosan sama papa. Nanti dilanjut lagi ya, maaf banget..jangan marah ya.”
    “He? Iya, aku nggak bakal marah donk. Salam buat Papamu ya. Semangat.” Cklik…pembicaraanpun berakhir.
     My girlfriend mempunyai nama yang indah, Angel, dia berasal dari desa yang tidak jauh dari kota tempatku tinggal, sejak SMA dia sudah hidup mandiri di kos-kosan. Fisikli dia manis dan imut, otak pun dia cerdas, di SMA dia berada di kelas unggulan. Bisa pacaran dengannya bagaikan cerita Beauty and the Beast, aku merasa sangat beruntung. Sudah dua tahun kami pacaran, dan lancar-lancar saja, walau kadang kecemburuan membutakan kasih sayang kami, tapi semua bisa teratasi.
     Ahhhhh…aku kangen banget sama dia,,,aku bisa gilaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…

Ayo Baca Lanjutannya...≧ω≦... Cuma Angling: Cerita Bersambung

Ordinary Life: Part 3

Thanks Curly

          Tenda sudah berdiri perlengkapan pun sudah ada di dalamnya, setelah itu kami dikumpulkan di sebuah lapangan hijau di depan kawasan tempat kami mendirikan tenda. Saat mendirikan tenda tadi aku berkenalan dengan empat orang teman satu tendaku, mereka adalah Jojo cowok putih oriental, Satria si tampan dengan potongan rambut Hyde vokalis Lar’c en Ciel, Arul si cool (menurutku), yang terakhir adalah Santo si ramah. Di lapangan kami menempati barisan yang sama di kubu barisan laki-laki. Barisan di bagi menjadi dua kubu dengan lima saf per kubu (pramuka banget). Senior memerintahkan tiap saf pada tiap kubu untuk suit (pingsut) dan pemenang pertama akan di kumpulkan dalam satu barisan lain lalu pemenang kedua juga demikian begitupun seterusnya sehingga akhirnya tebentuk 5 kelompok baru campuran dari laki-laki dan perempuan. Kulihat kelompokku terdiri dari enam perempuan dan lima laki-laki.…ow…si gadis nyentrik satu kelompok denganku dan…OMG…Okti juga satu kelompok denganku..ah apa yang aku pikirkan?...aku udah punya cewek dan aku setia..harus.
          Kami diperintahkan senior untuk maju satu persatu memperkenalkan diri dan mengingat ciri-ciri dari semua peserta. Hal itu sangat sulit bagiku, soalnya aku punya daya ingat yang payah. Setelah acara perkenalan selesai, kami di beri beberapa game ala pramuka dengan menggunakan perangkat-perangkat nggak penting bawaan kami, dan tidak terasa (sebenernya terasa banget) 5 jam terlewati, kami pun diberi kesempatan ishoma sampai jam setengah delapan. Kupikir acara ini bakal jadi acara pembantaian senior ke juniornya, ternyata cuma main-main…hohoho…I like it…

-------------------------------------------------------------

          AAAAHHHH…..ternyata dugaanku salah besar!! Sekarang aku lagi di bentak-bentak di tengah kebun yang gelap. Cuma ada cahaya dari lampu senter milikku, Okti dan beberapa panitia.
Kami masuk dalam permainan mereka, permainan jalan malam. Kami di haruskan jalan menuju satu pos ke pos lain dengan jarak waktu 5 menit per peserta, kami di bekali peta sederhana untuk menyusuri kebun yang cukup luas dan super gelap. Ada 5 pos, pos teka-teki, pos kemampuan, pos akting, pos agama, dan yang terakhir pos mental. Dari pos 1 sampai 4 aku lancar-lancar saja, dan setelah melewati pos agama, aku menyusuri jalan menuju pos mental, dan mulai dari situlah petaka yang indah terjadi, aku tersandung gundukan batu sebesar manusia, kukira itu mayat.
         “Ah, sial…apes buanget aku ni,” gumamku. “Walaaahhh…senterku mati…mana gelap banget, hape juga nggak kubawa…duh, gimana nih”.
         Aku terus memeras otak dan berusaha menyesuaikan mataku dengan gelap malam. Setelah sedikit-demi sedikit mulai terbiasa, aku melanjutkan perjalanan dengan perlahan. Tidak lama selang aku berjalan ada sebuah sinar dari belakangku.
         “Siapa?” suara perempuan terdengar dari arah cahaya yang semakin mendekat itu.
        “Andy. Siapa di sana?” Sambil menyipitkan mata berusaha mengetahui siapa disana. Dan ternyata…
       “Okti. Kamu kenapa?mana sentermu?”
       “e..a.e.a..anu..senterku rusak, tadi aku mau nyoba gerakan dance baru tapi gagal..hehe..” aahh...kenapa aku gelagepan?
       “haha,, kamu aneh ya…mau barengan sama aku?susah lho jalan di tempat kayak gini tanpa senter.”
       “mmm..boleh deh…makasih ya sebelumnya.”
       “biasa aja kali, lagipula sebenernya aku juga sedikit takut, jadi kalo ada temennya malah bisatenang.”
      Oh my girlfriend…I’m sorry, ini bukan pintaku…keadaan yang mengharuskan… Lalu kamipun melanjutkan perjalanan menuju pos mental.
Jreng…jreeeennng… sesampainya di pos mental kami dibentak-bentak. Pencet capslock dulu ah biar keliatan mbentak..
       “HEY!!KENAPA KALIAN DATENG BERDUA-DUAAN GINI?” tanya salah satu senior cowok bertubuh tegap.
      “Aku tadi jatuh kak, senterku rusak,” jawabku sesopan mungkin, “dan dia nolongin aku.”
     “AAAHH,,ALASAN!!PASTI KALIAN MAU PACARAN DI TEMPAT GELAP KAN,” kali ini giliran senior cewek yang nrocos.
Uggghhh…pengen banget masukin ni senter ke mulut mereka..
      “Bukan kak, aku kasihan sama dia, makanya aku bantu,” Okti berusaha membelaku dan dirinya sendiri.
     “ALASAN AJA!!KALIAN BESOK BAKAL DAPET HUKUMAN!” kali ini para senior kompak ngomongnya.
     “YAUDAH, SEKARANG TUNJUKIN SYARAT MASUK KE POS INI. UANG SERATUS KOIN TAHUN 1991!” perintah senior cowok tadi.
      Kami pun mulai merogoh saku kami. Lalu Okti memberikan koinnya kepada senior, sedangkan aku masih merogoh dan merogoh… OMG… ilang!!..pasti jatuh waktu aku kesandung tadi..argh…bakal dobel nih hukumanku…
      Saat aku terlihat mulai kebingungan, sebuah tangan yang halus menyentuh tanganku dan memasukkan sebuah koin di genggamanku. “Aku bawa dua koin, pake ini aja,” bisik Okti disebelahku.
      Dengan segera aku memberikan koin itu kepada senior….aaahhh…aku diselamatkan lagi sama Okti…
     “Thanks Okti. Kalau kamu mau belajar nge dance aku ajarain gratis deh,”candaku sambil berbisik ke pada Okti.
     “No thanks. Aku belum mau jatuh…heehe..”

    Acara bentak membentak pun berlanjut……


Ayo Baca Lanjutannya...≧ω≦... Cuma Angling: Cerita Bersambung

Ordinary Life: Part 2

Curly

          Seperti layaknya murid dan mahasiswa baru, aku mempersiapkan barang-barang unik untuk orientasi. Roti lima rasa, jus madu, uang koin 100 rupiah keluaran 1991, karet gelang lima warna, dan beberapa barang nggak jelas lainnya sudah aku siapkan. “Haha,,aku siap perang,emangnya aku nggak bisa nyiapin barang-barang aneh kayak gini, nggak usah belagu deh senior.”
          Jam menunjukkan pukul enam, aku harus tiba di kampus pukul tujuh agar tidak ketinggalan bus,,eh,,truk yang akan mengangkut kami menuju bumi perkemahan di daerah Boyolali. “Mom, aku berangkat ya…Assalamuallaikum”. “Iya Andi anakku…hati-hati,” balas ibuku dari dapur.
          Di dalam bus aku membayangkan apa saja yang sudah disiapin para senior buat ngerjain kami. Aku terus menebak-nebak dan tidak terasa bus sudah sampai di depan kampus, akupun turun dengan banyak barang-barang nggak penting di tangan kanan dan kiriku. Tepat di tempat aku turun dari bus aku melihat si gadis nyentrik itu, kali ini rambutnya di kucir lima, tapi tidak hanya dia, semua mahasiswi diwajibkan memodelkan rambutnya seperti itu. Kami sempat bertemu pandang,,,sepersekian detik,,,lalu dia ngacir ke kerumunan cewek-cewek.
          Aku menaikkan barang-barangku ke bak truk. “Butuh bantuan?” tiba-tiba suara yang sedikit berat terdengar di atasku, dia Angga, cowok ganteng berkulit putih dengan tubuh tegap. Ternyata dia sudah ada di bak truk terlebih dahulu. Aku sempat berkenalan dengannya kemarin sebelum pulang, dan berdiskusi tentang barang-barang yang harus kami bawa. “Oke, please,”aku pun menyodorkan tasku.
          Perjalanan pun dimulai, semua mahasiswa-mahasiswi di kumpulkan dalam satu truk, kebetulan jumlah kami sedikit, tidak mencapai 50 orang dan bak truknya cukup luas. Aku duduk bersandar di dinding truk dan mulai menyebarkan pandanganku satu per satu ke teman-teman baruku. Semuanya masih sama seperti kemarin (iya lah), cantik-cantik dan ganteng-ganteng. Pandanganku sempat berhenti pada gadis putih dengan pipi gempi dan berambut panjang dengan sdikit curly di ujungnya. Hidungnya mungil, matanya sayu, bibirnya pink. Imut bangeeeeeeeeeeetttt!!!!...lalu...Jreng!!seketika wajah my girlfriend nongol di kepalaku...”Tenang cint, aku nggak akan berpaling,” gumamku.
          “Kamu ngomong apa? sama siapa?” tanya Ruka yang duduk di sebelahku sejak tadi.
          “Menurutmu dia gimana?” aku balas tanya sembari menunjukkan tanganku ke gadis imut tadi.
          “Nice, jeli juga mata ente. Namanya Okti, aku udah sempat kenalan, dan dia jomblo lho..”
          “Maksud loh? Aku udah ada orang yang aku sayangin broooo…” meskipun aku berkesan pamer sama Ruka, tapi sebenarnya aku sedikit gelisah karena sejak kemarin my girlfriend tidak menghubungiku sama sekali, pesan ku juga tidak dibalas, tapi mungkin dia sibuk sekali sama sepertiku. Aku harap dia tidak mengalami kesulitan.
          Setelah beberapa jam akhirnya kami tiba dan langsung di perintahkan untuk mendirikan tenda dalam waktu satu jam. PERANG DIMULAIIIII….HAHAHAY

-to be continued-
Ayo Baca Lanjutannya...≧ω≦... Cuma Angling: Cerita Bersambung

Ordinary Life: Part 1

The Orientation

         Kemeja putih, celana hitam, dan sepatu pantofel hitam. Yup, itu dia fashion pertamaku memulai dunia perkuliahan. Nggak cuma aku, 3000 lebih homosapiens di kampus baruku hari ini memakai kostum yang sama. Semua mahluk hitam putih itu berkumpul di satu lapangan stadion untuk mengikuti upacara penerimaan mahasiswa baru, alhasil berefek ke mata, dan semua jadi kayak film jadul yang miskin warna,fiuh,,, bosennya mata ku...Biarpun begitu ini mata terus melakukan searching dan clingak-clinguk nggak jelas,kenapa? karena aku mencari seseorang di barisan jurusan Psikologi. Yah, sebenernya aku tahu tindakanku konyol karena pastinya itu bakalan sulit seperti mencari  amoeba di tumpukan jerami, tapi apa daya semua reflek, di sana ada manusia yang paling terang bagiku, yeah, my girlfriend. 
         Sampai akhir acara aku nggak menemukan si doi, sebagai gantinya aku mendapat seorang teman baru, dia satu-satunya yang aku ajak ngobrol, jujur aja aku susah sekali buat tiba-tiba akrab dengan orang asing. Teman baruku itu namanya Ruka, cowok berambut hitam kecoklatan dengan gaya artis korea jaman sekarang.  Obrolan kami saat upacara tadi lumayan asyik, sampai akhirnya aku tahu kalau ternyata dia bukan teman baru, dia teman SDku. Kami jadi semakin dekat karena kami punya hobi yang sama, nonton film. Dan alasan kami masuk ke Universitas dan jurusan bahasa asing ini juga sama, yaitu nggak perlu cari teks kalau lagi download film…haha..
          Akhirnya acara berjemur bersama satu kampus ini selesai juga, semua mahasiswa berhamburan keluar, aku pun begitu, beberapa detik setelah barisan dibubarkan aku segera berpamitan dengan Ruka dan melambaikan tangan ke semua orang dalam satu barisan…ya…aku buru-buru karena tidak sabar bertemu pujaan hatiku. Tapi baru saja beberapa langkah, terdengar suara menggelegar dari pengeras suara, “DIHARAPKAN BAGI PARA MAHASISWA BARU UNTUK BERKUMPUL DENGAN MASING-MASING JURUSAN DAN KEMBALI KE KAMPUS MASING-MASING!”.
           “Ah, sial…ada apaan lagi nih,” gumamku.
         “Santai bro, nanti juga bisa ketemu kok sama pujaanmu itu..haha,” Ruka menepuk punggungku dari belakang.
          “Yoi, coy.”
          “Ayo buruan ke kampus, lebih cepat lebih baik.” Kami pun bergegas menuju gedung kampus kami.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------
      
       Kami para mahasiswa bari dikumpulkan dalam satu ruangan. Kulihat sebagian besar teman perempuanku cantik-cantik dan yang laki-laki pun nggak jelek, modis malah….aahhh, jangan-jangan cuma aku yang kelihatan kumal di sini. Tapi diantara teman-teman baruku ini, mataku langsung tertuju pada gadis yang duduk di dekat jendela, dengan kulit eksotik, baju hitam putih yang modis, dan kuncir model kelabang yang dibuat banyak menghiasi kepalanya. Tapi bukan kuncirnya yang jadi masalah, tapi sikap duduknya, dia bersila dikursi seolah-olah nggak peduli dengan orang-orang disekitarnya.
      Tidak lama setelah ak duduk di tempatku beberapa dosen dan senior masuk ke ruangan. Setelah member I salam, mata para dosen dan senior langsung tertuju pada gadis yang tadi aku lihat, dan si gadis masih belum merubah posisi duduknya. HEY!Ada dosen tuh! Batinku.
      “Mbak, lagi diwarung?” ujar bu dosen dengan nada ketus. Lalu si Gadis dengan malas-malas menurunkan kakinya.Setelah itu para dosen dan senior mulai menerangkan masa orientasi kami.
   “OKEY….MULAI DARI SINILAH PETUALANGANKU DI MASA PERKULIAHAN DIMULAI. SEMANGATTT!!!” teriakku dalam hati.  


cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kesamaan nama, tempat, atau kejadian, itu murni ketidak sengajaan.

Ayo Baca Lanjutannya...≧ω≦... Cuma Angling: Cerita Bersambung
 
Copyright 2011 Cuma Angling